Critical Review
Judul jurnal : Pemetaan Lahan Kritis Di Kecamatan Pacet Dan Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto Swara Bhumi E-Journal
Penulis : Agung Yudistira
Halaman : 91-98
Tahun : 2013
Gambaran Kasus
Lahan
adalah lingkungan fisik yang terdiri dari iklim, relief, tanah, air, dan
tumbuh-tumbuhan sejauh mempengaruhi penggunaan lahan. Ini termasuk dampak
negatif dari aktivitas manusia di masa lalu dan sekarang, seperti reklamasi
laut, penggundulan hutan, dan tanah salin. Negara dalam hal ini juga mencakup
pengertian ruang dan tempat. Oleh karena itu, tanah memiliki arti yang lebih
luas daripada tanah atau medan. Kata tanah atau lahan dapat dipergunakan dalam
makna yang setara dengan land. (Arsyad,1989:207). Lahan kritis adalah kondisi
lahan terbuka dimana produktivitas lahan berkurang akibat erosi yang parah.
Lahan kritis adalah kondisi lahan yang terbuka atau ditumbuhi semak belukar
akibat erosi yang berat dan produktivitas yang rendah sehingga mengakibatkan
lapisan tanah tipis dengan batuan yang tersingkap di permukaan tanah. (Poerwowidodo,
1990:34). Perubahan kemampuan lahan merupakan indikator lahan yang penting.
Pembentukan lahan yang signifikan dapat didorong oleh beberapa faktor Menurut
Munander, pembentukan lahan yang signifikan didorong oleh beberapa faktor
seperti topografi, faktor tanah, tingkat erosi dan vegetasi penutup lahan.
Menurut
Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD ) Kabupaten Mojokerto tercatat sejak
tahun 2000 sampai 2012 sering terjadi bencana longsor disaat musim penghujan
tiba antara lain di Kecamatan Pacet, Kecamatan Trawas, Kecamatan Gondang,
Kecamatan Jatirejo, Kecamatan Kutorejo, dan Kecamatan Ngoro. Dibandingkan
dengan wilayah Kecamatan Lain di Kabupaten Mojokerto yang sering mengalami
bencana longsor maupun banjir bandang, Kecamatan Pacet dan Kecamatan Trawas
adalah yang paling sering terjadi bencana tanah longsor dan banjir bandang,
yaitu tahun 2002, 2004, 200,6, 2012. (BPBD Kabupaten Mojokerto 2012). Kecamatan
Pacet dan Kecamatan Trawas yang juga termasuk bagian wilayah DAS ( Daerah
Aliran Sungai ) Brangkal, wilayah tersebut terletak di lereng pegunungan Welirang
dan pegunungan Arjuna dengan ketinggian antara 500-1000 m dpl. Wilayah
Kecamatan Pacet dan Kecamatan Trawas memiliki topografi yang bervariasi dan kini
telah berkembang menjadi Daerah Tujuan Wisata. Akibat dari adanya degradasi
lahan yang ditandai dengan seringnya terjadi bencana tanah longsor dan banjir
bandang di Kecamatan Pacet dan Kecamatan Trawas yang berdampak pada
produktivitas lahan terutama lahan pertanian yang akan berpengaruh terhadap
adanya lahan kritis di wilayah Kecmatan Pacet dan Kecamatan Trawas.
Berdasarkan
artikel jurnal yang berjudul “Pemetaan Lahan Kritis Di Kecamatan Pacet Dan
Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto” , membahas dan mengkaji tentang
pembangunan kota yang berdampak pada berkurangnya lahan pertanian dan basah
yang ada di area kecamatan yang punya lahan kritis hingga menyebabkan bencana pada
Kecamatan Pacet dan Trawas dengan memperhatikan beberapa faktor yang
mempengaruhinya seperti karena penyalah gunaan dan pengalihan fungsi lahan yang
semestinya.
Rumusan
Persoalan Kasus
Tanah longsor dan banjir bandang
sering terjadi di Kecamatan Pacet dan Trawas, yang mengalami degradasi dalam
beberapa tahun terakhir. Terletak di lereng Gunung Arjuna dan Gunung Welirang,
Kecamatan Pacet dan Trawas memiliki topografi yang bervariasi, dari lereng
datar hingga lereng sangat curam. Pada ketinggian antara 500 dan 1000 meter di
atas permukaan laut, Kabupaten Paceto dan Trawas memiliki curah hujan rata-rata
yang relatif tinggi, dengan curah hujan tahunan 215,57 hingga 263,26 mm. jenis
tanah coklat non-kapur, mediteran, atau andsol, jenis tanah, dan sangat
sensitif, atau litosol.
Kecamatan Pacet dan Trawas yang
memiliki potensi wisata geografis berupa wisata alam, lambat laun menjadi
daerah tujuan wisata dalam proses pembangunan. Berada di lereng Gunung Arjuna
dan Gunung Welirang, kondisi kawasan yang diberkahi dengan pemandangan alam
yang indah dan udara yang segar membuat banyak dibangunnya Vila-vila di
Kecamatan Pacet dan Trawas. Perubahan fungsi lahan seiring dengan perkembangan
zaman, pengamatan di Kecamatan Pacet dan Trawas menunjukkan bahwa beberapa
kawasan yang dulunya lahan pertanian telah beralih fungsi menjadi kebutuhan
vila-vila. Akibat perkembangan ini, lahan pertanian berpindah ke kawasan lain
yang seharusnya menjadi hutan. Dari pembahasan menggenai kondisi wilayah
Kecamatan Pacet Maupun Trawas di atas lahan kritis di Kecamatan Pacet dan
Kecamatan Trawas secara keseluruhan 9401,17 ha (57,3 %) merupakan lahan kritis
yang tergolong sangat ringan, 4923,67 ha (30,01 %) merupakan lahan kritis yang
tergolong ringan, 1371,37 ha (8,36 %) Merupakan lahan kritis yang tergolong
sedang, 646,63 ha (3,94 %) merupakan lahan kritis yang tergolong berat, 64,29
ha (0,39 %) merupakan lahan kritis yang tergolong sangat berat. Tingkat erosi
di Kecamatan Pacet dan Kecamatan Trawas adalah 7180,73 ha (43,77 %) luas
wilayahnya termasuk wilayah dengan tingkat erosi sedang, sedangkan untuk
tingkat erosi berat seluas 4597,98 ha (28,02 %), tingkat erosi sangat berat
seluas 513,08 Ha (3,13 %), dan sisanya yaitu 4026,01 ha (24,54 %) tingkat erosi ringan, 89,33 ha (0,54 %) merupakan wilayah dengan tingkat erosi sangat
ringan.
Solusi
Kecamatan Pacet dan Trawas sebaiknya
memiliki 3 tujuan pengembangan yaitu: peningkatan produktivitas pertanian,
peningkatan pendapatan sektor pariwisata, dan meningkatkan upaya mitigasi
bencana. Dalam hal ini kita bisa prioritaskan upaya mitigasi bencana sebab tujuan
ini dapat berefek domino kepada tujuan lainnya. Dengan memperhatikan lingkungan
dan fisik dari wilayah tersebut, kita bisa membuat produktivitas pertanian dan
pengadaan pariwisata secara berkelajutan.
Kemudian denagan dibuatnya pemetaan
lahan kritis, dengan ini diharapkan
dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah untuk mengelola kawasannya sehingga
dapat mencegah perluasan dan proliferasi lahan kritis serta menciptakan
pembangunan yang berkelanjutan. Pihaknya juga akan meninjau situasi Kecamatan
Pacet dan Trawas yang
berpotensi dikembangkan sebagai daerah
tujuan wisata (DTW).
Daftar Pustaka
Arsyad, Sitanala. 1989. Konservasi Tanah dan Air.
Bogor:IPB.
Asdak Chay. 2007. Hidrologi Dan Pengolahab Daerah
Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Malingreau, Paul, Jean. 1983. Remote Sensing for
Natural Resources Surveys New Approache in QuantitativeAnalysis. Yogyakarta:
Faculty of Agliculture UGM.
Mather, Paul M. 1995. Remote Sensing Data Systems and
Networks. Chichester: JohnWiley Sons.
Poerwowidodo. 1991. Batuan Pembentuk Tanah. Jakarta:
Raja Wali.
Sarief, Dr. Ir. E. Saiffudin. 1986. Konservasi Tanah
dan Air. Bandung: Pustaka Buana.
Siswanto, 2006. Evaluasi Sumberdaya Lahan.
Surabaya:UPN Press.


Komentar
Posting Komentar